Rabu, 04 Agustus 2010

Pemastian KLB Leptospirosis

 PEMASTIAN KLB LEPTOSPIROSIS

A.   PERSIAPAN PENELITIAN LAPANGAN
1.    Konfirmasi Informasi
a)    Asal informasi adanya KLB
-          Laporan puskesmas
-          Masyarakat
-          Hasil laboratorium
b)    Gambaran tentang leptospirosis yang sedang berjangkit
-          Gejala klinis: amat bervariasi mulai dari yang paling ringan mirip orang sakit influenza, sampai yang berat dan berakhir dengan kematian. Setelah dua sampai 26 hari kuman memasuki tubuh manusia, maka mulailah timbul gejala. Secara umum gejala leptospirosis, antara lain demam (ringan atau tinggi), nyeri kepala yang bisa menyerupai nyeri kepala pada DBD, seringkali disertai tubuh yang menggigil, nyeri otot terutama di daerah betis, punggung dan paha sehingga penderita sukar berjalan, mual, muntah dan nafsu makan menurun, radang pada mata, dan pada kasus berat dapat terjadi mata berwarna kuning, gangguan  ginjal, radang paru dan radang otak. Gejala klinik tersebut dapat menyerupai penyakit infeksi lain yang bergejala demam akut, sehingga penyakit ini perlu selalu dicurigai terutama pada orang yang mempunyai risiko untuk tertular.
Ada beberapa periode dalam perjalanan penyakit leptospirosis. Pada minggu pertama demam tinggi disertai nyeri otot, nyeri kepala, mual, muntah dan berbagai gejala lainnya. Pada masa ini, leptospira dapat ditemukan dalam darah. Pada minggu selanjutnya, leptospira menghilang dari darah dan menetap di ginjal, sehingga teridentifikasi di urin. Penyakit leptospirosis ada juga yang disertai warna kuning (tipe ikterik). Warna kuning dapat dikenali pada mata, selaput lendir mulut, dan bahkan pada badan. Namun, ada juga yang tidak disertai warna kuning (tipe anikterik). Gejala dini Leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala parah, nyeri otot, merah, muntah dan mata merah. Aneka gejala ini bisa meniru gejala penyakit lain seperti selesma, jadi menyulitkan diagnosa. Malah ada penderita yang tidak mendapat semua gejala itu.
Stadium pertama
·         Demam tinggi, menggigil
·         Sakit kepala
·         Malaise (Lesu/Lemah)
·         Muntah
·         Konjungtivitis (radang mata)
·         Rasa nyeri otot betis dan punggung
·         Gejala gejala diatas akan tampak antara 4 – 9 hari
Stadium kedua
·         Terbentuk antibodi di dalam tubuh penderita
·         Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama
·         Apabila deman dan gejala gejala lain timbul, kemungkinan akan terjadi meningitis
·         Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat
-          Pemeriksaan yang telah dilakukan & hasilnya
-          Komplikasi yang terjadi: Ada penderita Leptospirosis yang lebih lanjut mendapat penyakit parah, termasuk penyakit Weil yakni kegagalan ginjal, sakit kuning (menguningnya kulit yang menandakan penyakit hati) dan perdarahan masuk ke kulit dan selaput lendir. Pembengkakan selaput otak atau meningitis dan perdarahan di paru-paru dapat terjadi. Kebanyakan penderita yang sakit parah memerlukan rawat inap dan leptospirosis yang parah dapat menyebabkan kematian.
Pada hati         : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6
Pada ginjal      : gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
Pada jantung   : berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak
Pada paru       : batuk darah, nyeri dada, sesak napas
Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva)
Pada kehamilan: keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati
c)    Keadaan geografis dan transportasi ke Gayamsari

2.    Pembuatan Rencana Kerja
a)    Definisi kasus awal

b)    Hipotesis awal mengenai agen penyebab, sumber, dan cara penularannya
·         Penyakit leptospirosis
Penyakit ”kencing tikus” atau penyakit leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan suatu jasad renik tertentu yang dinamakan Leptospira. Leptospirosis dapat menyerang manusia atau hewan dan digolongkan sebagai penyakit zoonosis, artinya menular dari hewan ke manusia, dan penularan ini sering terjadi secara kebetulan. Penyakit leptospirosis ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat terutama di negara tropis dan subtropis di negara berkembang. Hal ini akibat antara lain curah hujan tinggi, kesehatan lingkungan yang kurang baik, terutama terkait dengan masalah sampah. Kasus penyakit leptospirosis di Indonesia cukup tinggi dan angka kematian karena penyakit ini cukup besar. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia. Leptospirosis adalah penyakit manusia dan hewan dari kuman dan disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang menyerang hewan dan manusia. Bakteri ini berbentuk spiral dan dapat hidup didalam air tawar selama lebih kurang satu bulan. Tetapi dalam air laut, air selokan, dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati.
·         Sumber penularan
Penyebab penyakit leptospirosis adalah spesies Leptospira interrogans yang mampu menyebabkan penyakit (patogen) pada manusia. Ada pula spesies lain yang tidak patogen, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk spiral dengan ukuran 0,1 mm x 6 - 20 mm, selalu bergerak, dapat hidup di air tawar selama kurang lebih 1 bulan, biasanya cepat mati di air asin. Setiap spesies leptospira terbagi menjadi puluhan serogrup dan terbagi lagi menjadi puluhan, bahkan ratusan serovar. Saat ini, Leptospira interrogans yang bersifat patogen telah dikenal lebih dari 200 serovar. Jasad renik ini biasanya hidup di dalam ginjal hewan pejamu (inang) dan dikeluarkan melalui air kencing (urin) saat berkemih. Hewan pejamu tersebut antara lain tikus, babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, kelelawar, tupai dan landak. Tikus sering menjadi pejamu bagi berbagai serovar leptospira.
·         Cara penularan
Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung, sedangkan penularan dari manusia ke manusia sangat jarang. Penularan langsung biasanya terjadi dari hewan yang mengandung penyakit leptospira kepada mereka yang pekerjaannya merawat, memotong hewan seperti peternak, dokter hewan, peneliti yang memakai binatang percobaan, pekerja di rumah potong hewan dan umumnya terjadi secara kebetulan. Penularan tidak langsung (pada manusia) terjadi melalui air atau tanah yang tercemar urin hewan yang mengandung leptospira. Sering terjadi pada saat banjir, di selokan atau sungai, di danau yang tercemar serta mereka yang bekerja sebagai pembersih selokan, sungai, pekerja perkebunan tebu, dan daerah rawa.  Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka atau melalui selaput lendir mata, selaput lendir di mulut, saluran pernafasan.
Kuman Leptospira biasanya memasuki tubuh lewat luka atau lecet kulit, dan kadang-kadang lewat selaput di dalam mulut, hidung dan mata. Berbagai jenis binatang bisa mengidap kuman Leptospira di dalam ginjalnya. Penyampaiannya bisa terjadi setelah tersentuh air kencing hewan itu atau tubuhnya. Tanah, lumpur atau air yang dicemari air kencing hewan pun dapat menjadi sumber infeksi. Makan makanan atau minum air yang tercemar juga kadang-kadang menjadi penyebab penyampaiannya.
Manusia terinfeksi bakteri leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan penderita leptospirosis. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari bakteri ini adalah selama 4 – 19 hari.

c)    Macam dan sumber data yang diperlukan
1)    Macam data: perorangan (kasus), klinis, laboratorium, pengobatan, riwayat pemaparan
2)    Sumber data: Puskesmas Gayamsari, laboratorium, masyarakat

d)    Strategi penemuan kasus: penggunaan data fasilitas kesehatan (Puskesmas Gayamsari), kunjungan ke Puskesmas Gayamsari, penyebaran kuesioner di Gayamsari, kunjungan ke Gayamsari

e)    Sarana dan tenaga yang diperlukan:
1)    Sarana:
·         Fasilitas perjalanan: angkutan (motor), akomodasi, dokumen perjalanan
·         Fasilitas komunikasi: telepon selular
2)    Tenaga: dokter, kesehatan lingkungan, paramedic, SKM

3.    Pertemuan dengan Pejabat Gayamsari

B.    PEMASTIAN DIAGNOSA PENYAKIT
1.    Rumusan Hipotesis Etiologis
2.    Uji Hipotesis Etiologi

C.   PENETAPAN KLB

D.   MENGIDENTIFIKASI KASUS ATAU PAPARAN
Tabel Frekuensi Gejala dan Tanda pada Kasus Leptospirosis di Gayamsari
Tanda dan Gejala
% Kasus yang Mempunyai Tanda dan Gejala
Demam tinggi

Sakit kepala

Malaise

Muntah

Mual

Nafsu makan menurun

Konjungtivitis

Nyeri otot betis, paha, dan punggung




E.    MENDESKRIPSIKAN KASUS BERDASARKAN ORANG, TEMPAT, DAN WAKTU
1.    Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu
Kurva epidemik
·         Masa inkubasi rata-rata: 4 – 19 hari

2.    Deskripsi Kasus Berdasarkan Tempat

3.    Deskripsi Kasus Berdasarkan Orang

F.    CARA PENANGGULANGAN SEMENTARA
G.   IDENTIFIKASI SUMBER PENULAR
1.    Rumusan Hipotesis Sumber dan Cara Penularan Leptospirosis
2.    Uji Hipotesis Sumber dan Cara Penularan Leptospirosis

H.   IDENTIFIKASI KEADAAN PENYEBAB KLB
1.    Rumusan Hipotesis Keadaan Penyebab Leptospirosis
2.    Uji Hipotesis Keadaan Penyebab Leptospirosis

I.      PERENCANAAN PENELITIAN LAIN YANG SISTEMATIS

J.    PENYUSUNAN REKOMENDASI CARA PENANGGULANGAN KLB
Tabel Cara Penanggulangan KLB
Tindakan
Contoh
Menghilangkan sumber penular
-    Menjauhkan tikus, anjing, binatang kandang, babi kandang maupun hutan, kuda, kucing, dan domba dari orang
-    Membunuh bakteri Leptospira interrogans pada tikus, anjing, binatang kandang dan asli, babi kandang maupun hutan, kuda, kucing dan domba
-    Melakukan isolasi atau pengamatan pada hewan yang diduga sebagai sumber penularan
Memutus rantai penularan
-    Sterilisasi tikus, anjing, binatang kandang dan asli, babi kandang maupun hutan, kuda, kucing dan domba
-    Peningkatan higiene
Mengubah respon orang terhadap penyakit
-    Mengadakan pengobatan dengan antibiotika golongan penicilline, streptomycine, chloramphenicol, tetracycline, doxycyline, dan erythromycine


K.    SISTEM SURVEILAN
L.    LAPORAN HASIL PENYIDIKAN

BY: ShabReen_Martha

1 komentar: