Rabu, 04 Agustus 2010

Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti
1.      Klasifikasi nyamuk Ae. aegypti
Filum: Arthropoda
            Kelas: Insecta
                   Ordo: Diptera
                        Sub ordo: Nematocera
                               Famili: Culicidae
                                    Genus: Aedes
                                          Sub genus: Stegomya
                                                Spesies: Aedes aegypti (Linn)
                                                                    Aedes albopictus (Skutse)
2.      Morfologi
Ae. aegypti  mempunyai morfologi sebagai berikut :
a.      Nyamuk dewasa
Nyamuk dewasa berukuran kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki.
Ae. aegypti dewasa mempunyai ciri-ciri morfologi yang khas yaitu:
1)      Nyamuk berukuran lebih kecil daripada nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus), ujung abdomennya lancip.
2)      Berwarna dasar hitam dengan belang-belang putih pada bagian badannya termasuk kaki-kakinya.
3)      Pada bagian dorsal toraks (mesonotum) terdapat bulu-bulu halus berwarna putih yang berbentuk lire (lire-shaped ornament).
Nyamuk jantan Ae. aegypti mempunyai antena yang memiliki banyak bulu, sehingga disebut antena plumose, sedangkan pada nyamuk betina antena hanya memiliki sedikit bulu yang disebut pilose. Nyamuk jantan setelah berumur satu hari siap untuk melakukan kopulasi dengan nyamuk betina, dan setelah kopulasi dilakukan, nyamuk betina mencari makanan berupa darah manusia atau darah binatang yang diperlukan untuk pembentukan telur. Seekor nyamuk betina Ae. aegypti, 3-4 hari setelah menghisap darah, mampu bertelur sebanyak 80-125 butir dengan rerata 100 butir telur.
Nyamuk Ae. aegypti adalah sub genus Stegomya dengan ciri-ciri : belang-belang putih dan warna putih mengkilap. Pada mesonotum terdapat bentuk menyerupai gada, probosis polos tanpa belang-belang, tarsi berbelang putih.
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan mulai dari nyamuk menghisap darah hingga bertelur umumnya antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut sebagai siklus gonotropik (gonotropic cycle).

b.      Kepompong
Kepompong (pupa) berbentuk seperti ’koma’. Bentuknya lebih besar namun lebih ramping dibanding larva (jentiknya). Pupa berukuran lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain. Pupa Ae. aegypti mempunyai ciri morfologi yang khas yaitu memiliki tabung/terompet pernapasan yang berbentuk segitiga. Jika pupa diganggu oleh gerakan atau tersentuh, akan bergerak cepat untuk menyelam dalam air selama beberapa detik kemudian muncul kembali dengan cara menggantungkan badannya menggunakan tabung pernapasan pada permukaan air di wadh/tempat perindukan. Setelah berumur 1-2 hari, pupa lalu tumbuh menjadi nyamuk dewasa jantan atau betina. Biasanya nyamuk jantan muncul/keluar lebih dahulu, walaupun pada akhirnya perbandingan jantan-betina (sex ratio) yang keluar dari kelompok telur yang sama, 1:1.

c.      Jentik (larva)
Ada empat tingkat (instar) larva sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
1)      Instar I       : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm
2)      Instar II      : 2,5-3,8 mm
3)      Instar III     : lebih besar sedikit dari larva instar II
4)      Instar IV     : berukuran paling besar sekitar 5 mm
Larva memerlukan empat tahap perkembangan. Jangka waktu perkembangan larva tergantung pada suhu, keberadaan makanan, dan kepadatan larva dalam wadah. Dalam kondisi optimal waktu yang dibutuhkan sejak telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa adalah tujuh hari termasuk dua hari masa pupa. Sedangkan pada suhu rendah, dibutuhkan waktu beberapa minggu.
Larva Ae. aegypti hidup pada air yang jernih dan tenang serta mengandung bahan organik, tidak berkembang pada air yang kotor. Waktu yang dibutuhkan untuk kehidupan larva nyamuk (stadium larva) adalah 7-10 hari. Adapun ciri-ciri khas larva Ae. aegypti adalah sebagai berikut :
1)      Adanya corong udara pada segmen terakhir.
2)      Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut-rambut berbentuk kipas (palmate hair).
3)      Pada corong udara terdapat pectin.
4)      Adanya sepasang rambut serta jumbai pada corong udara.
5)      Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8-21 atau berjejer 1-3.
6)      Bentuk individu dari comb scale seperti duri.
7)      Pada sisi thoraks terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan ada sepasang rambut di kepala.
8)      Adanya corong udara/siphon yang dilengkapi dengan “pectin”.

d.      Telur
   Ae. aegypti akan bertelur setelah menghisap darah. Telur diletakkan satu persatu pada dinding kontainer dekat dengan permukaan air. Telur yang dihasilkan sekitar 100 butir setiap kali bertelur. Pada interval 1-5 hari, telur yang diletakkan seluruhnya berkisar 300-750 butir dan waku yang dibutuhkan untuk bertelur sekitar 6 minggu. Nyamuk Ae. aegypti satu kali bertelur sekitar 10-100 butir, bahkan dapat mencapai sekitar 300-750 butir. Kemampuan telur bertahan dalam keadaan kering membantu kelangsungan hidup spesies dalam kondisi iklim yang tidak menguntungkan.

B.     Siklus Hidup
Nyamuk Ae. Aegypti dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosis sempurna dengan empat stadium, yaitu telur – larva – pupa – dewasa. Tiga stadium pertama hidup dalam air dan stadium dewasa aktif terbang.
Pada keadaan yang optimal siklus hidup nyamuk dibutuhkan ± 16 hari, masing-masing stadium membutuhkan waktu sebagai berikut: stadium telur selama 2-3 hari, stadium larva selama 5-6 hari, stadium pupa selama 2 hari dan 6-7 hari setelah menjadi dewasa nyamuk siap bertelur lagi.

C.     Bionomik
1.      Tempat perindukan
Tempat perindukan ae. Aegypti berupa:
a.      Tempat penyimpanan/penampungan air (TPA) tangki air, bak besar, bak mandi, bak WC, tahang, drum, tempayan, ember, paso/jambangan.
b.      Bukan tempat penyimpanan/penampungan air (non TPA):
1)      Barang-barang bekas: kaleng bekas, ban bekas, botol bekas, pecahan (piring, gelas, mangkuk), bekas aquarium, bekas kolam ikan dari semen, bekas TPA, bekas tempat mengaduk semen.
2)      Saluran air: talang, saluran air hujan, got semen, saluran WC, lubang kran.
3)      Lain-lain: vas bunga, pot tanaman, tatakan pot, helm/tudung, kolam di taman, patok besi/plastik, perangkap semut, kantung plastik.
c.      Alamiah
Potongan bambu, tempurung kelap, pelepah daun (pisng, keladi, bakung), daun yang jatuh, kulit keong, lubang pada batu, sejenis tumbuhan kantong semar.

D.     Kebiasaan Menggigit
Ae. Aegypti sangat antropofilik, walaupun ia juga bisa makan dari hewan yang berdarah panas lainnya. Sebagai hewan diurnal, nyamuk betina mempunyai dua periode aktivitas menggigit, yaitu pada pagi hari dan selama beberapa jam sebelum gelap. Waktu menggigit lebih banyak pada siang hari daripada malam hari, yaitu antara jam 08.00-12.00 dan jam 15.00-17.00, dan lebih banyak menggigit di dalam rumah daripada di luar rumah.
Jika masa makannya terganggu, Ae. aegypti bisa menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (multiple biter), dimana keadaan ini sangat membantu dalam memindahkan virus dengue kebeberapa orang sekaligus.

E.     Kebiasaan Beristirahat
Setelah menggigit (menghisap darah) dan selama menunggu pematangan telur, nyamuk Ae.aegypti beristirahat di tempat-tempat gelap, lembab, dan sedikit angin, misalnya di bawah furniture, benda-benda yang bergantung seperti baju dan gorden, serta di dinding.

F.   Jarak Terbang
Penyebaran populasi nyamuk tidak jauh dari perindukannya, tempat mencari mangsa, dan tempat beristirahatnya, sehingga populasinya sebagai cluster dan tidak membentuk populasi homogen. Bentuk minimum  cluster Ae.aegypti adalah dengan diameter 100 m, dikarenakan jarak terbang berkisar 100 m, maka populasi nyamuk tidak hanya terlokalisir tetapi juga terbagi-bagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar